Thursday, February 01, 2007

PMS

PMS 1

(Pre Menstrual Syndrome)

Gerah. Mau marah. Manusia bodoh. Gendut. Paha bersayap. Jangan
ganggu-ganggu. Pengen disayang. Sebentar-sebentar kangen. Beli coklat. Tak
punya baju. Jerawatan. Awas dekat-dekat, cewek galak. Hidup hancur. Tidak ada
yang benar. Hate myself. Hate my fiancée. Tidur tidur tidur. Malas malas malas.
Sendal jepit. Jauh-jauh dari timbangan. Bad hair week. Mau nangis. Perut kriuk
kriuk. Centil. Kening berkerut-kerut. Tak berguna. Tolong dengarkan. Sendiri.
Sepi. Campur aduk. Belanja-belinji. Cekakak cekikik.
Cuci-cuci celana. Jangan
bantah. Pegal pegal. Pijet massage. Peluk peluk. Minum segentong. Ada lemak di mana-mana. Inget-inget masa kejayaan. Senyum-seyum sendiri. Masa lalu tak terlupakan. Si anu sukses. si una beruntung. Rambut ijuk. Looser. Lagu-lagu mellow,
film-film mellow, buku-buku mellow.
Kotex atau laurier ? Ngantuk. Berat. Jangan ngaret. Nggak pake mikir. Sewot. Jatuh cinta lagi. Salah sasaran. Gak dateng reunian. Kerjaan bertumpuk. He loves me, he loves me not. Karir melayang, cita-cita terbang. Lupakan saja ? Duh, kuliah lagi, menikah, atau pulang kampung ? Vitamin C. Nutrilite herbal. Mandi all day long. Biar bersih. Tapi kentut kentut. Kembung. Jangan pegang perut. Lihat kalender. Ingat-ingat bulan lalu. Telat seminggu ??!




PMS 2


(Pre Marital Syndrome)



Is he really the one ? Push up push up. Nabung. Nggak punya duit. Hapal

sodara-sodari, kakek nenek, buyut, nenek moyang calon suami (seorang

pelaut ?). Bisa jadi istri yang baik ? Ibu yang baik ? Jadi diri

sendiri aja bingung !
Ngelamun. Musyawarah mufakat. Temperamen tegangan
tingkat tinggi. Diet diet diet. Lulur, mangir, masker. Jamu jamu. Inget
inget wejangan ayah ibu. Sudah waktunya berbakti. Usai sudah parasit
lajang. Everyday is shopping. Check list. To do list. Pre.

Post.Starting. Bayangan pisah ranjang.
Bukan apa-apa, si dia tukang
ngorok. Harus beli sofa. Grogi. Bisa kompak gak ya dengan mertua ? Deg
degan.Terharu.
Serius. Jaga diri. Hiiiiii …takut ! Monoton. Banyak utang. Dunia
sempit. Fans kabur. Cleopatra syndrome. Oedipus complex. Electra
complex. Vitamin B complex. Bahagia ? Ingat perselingkuhan amatiran di
kantor. Ingat perselingkuhan professional di film. Pandang calon suami.
Jangan lupa tatap matanya. Baca baca istri sholehah.Naluri sok feminis
pun muncul. Inget cerita teman lama. Menikah dengan siapa, hati
berlabuh di mana. Buka buka buku akuntansi. Sesal di hati dapet nilai 6
di raport. Merasa jiwa tua. Teman A dapet suami kaya, nggak perlu
pusing. Sahabat B dimodali habis-habisan sama orang tuanya,
nggak
perlu puyeng. Rekan C, emang udah kaya dari sononya. Cinta ? Emang ada
? Pillih pilih, jangan sampai salah pilih ! Kumpul kumpul ama ibu-ibu.
Duh, berisik. Hampir lupa beli buku masak tingkat pemula.Buruan ke
pameran property. Ah, tak terbeli. Kos lagi ? Apa bedanya dengan masih
sendiri ? Pake adat mana. Di gedung. Di rumah. Maunya sederhana,
jadinya spektakuler. Cosmopolitan di tangan, kamasutra luar kepala.
Pengen melarikan diri, dari calon suami ? Sudah terlanjur. Janji
pemotretan. Dapet lokasi bagus. Masih ngaret. Telpon pake HP pacar.
Lhoo … foto siapa ??!!




Sliding Doors (Resensi Film)

Sampai saat ini Sliding Doors masih menjadi film favorit saya. Saya pikir Anda pasti sering membayangkan versi lain dari hidup Anda, kehidupan lain Anda di luar hidup Anda sekarang ini. Jika Anda hanya bisa mengkhayalkannya dalam pertanyaan-pertanyaan “jika”, maka Sliding Doors mampu memberikan gambaran visual, bagaimana takdir dan nasib bekerja, dan bagaimana gambaran imajinasi Anda bermain.

Adegan diawali dengan Helen, yang bekerja sebagai PR di sebuah perusahaan, dengan terburu-buru berangkat kerja, berlari-lari memburu subway, dan hampir saja terlambat, karena pintu geser (sliding door) subway mulai menutup, namun Helen berhasil menerobos masuk. Kemudian sesampainya di kantor – yang telah menanti-nanti kedatangannya, Helen harus menemui kenyataan bahwa dia dipecat karena hangover dan menggunakan fasilitas kantor untuk meng-entertain customer secara berlebihan. Pulang cepat, bertemu dengan seorang pria kocak (James) dalam perjalanan pulang, dan mendapati kekasihnya Gerry , sedang bermain cinta dengan mantan pacarnya, Lidya.

Adegan di-rewind mundur ke belakang, sampai pada scene terburu-buru di stasiun, berpapasan dan menghindar dari seorang anak kecil yang sedang berjalan di tangga, namun pintu subway telah menutup dengan rapat, Helen ketinggalan kereta. Keluar stasiun untuk kemudian mencari taksi, Helen sempat dirampok dan cedera, namun selamat sampai di rumah (Lidya telah pergi dan Gerry sedang mandi), tidak mengetahui affair kekasihnya.

Cerita kemudian terbagi menjadi dua versi.

Skenario 1 (Helen yang berhasil naik subway), kehidupan selanjutnya berjalan dengan Helen mengusir Gerry dari rumahnya, depresi mendapati 2 kesialan terjadi hanya dalam waktu kurang dari satu hari, dan tinggal sementara di rumah sahabatnya. Beruntung Helen memiliki seorang sahabat seperti Anna yang sangat memperhatikan Helen dan mensupportnya untuk melupakan Gerry dan memulai hidup baru. Beberapa hari kemudian Helen ditemani Anna ke salon, merubah penampilan (adalah salah satu terapi ampuh untuk menjadi diri Anda yang baru), berambut sangat pendek dan blonde. Merintis kembali karirnya sebagai event organizer, sukses, bertemu kembali dengan James dan memulai hubungan kasih dengannya.

Skenario 2 (Helen yang ketinggalan subway), kehidupan selanjutnya berjalan justru sebaliknya. Mendapati kekasihnya ditimpa musibah, Gerry malah mencurahkan perhatiannya pada Helen (namun masih tetap berkencan dengan Lidya). Untuk menyokong kehidupan mereka berdua, Helen bekerja sebagai sandwich delivery, sementara Gerry (berjanji) menyelesaikan penulisan novelnya yang pertama.

Yang menarik dari film ini adalah, bagaimana cara penulis naskah sekaligus sutradara Peter Howitt menuturkan kedua kehidupan yang berjalan paralel tersebut. Setiap skenario bersetting dan berlatar belakang lingkungan yang sama ; café yang sama, pemandangan yang sama, orang-orang yang sama, jalan yang sama, event yang sama, subway yang sama, namun peristiwa yang berbeda. Peter Howitt dengan sukses berhasil memberikan gambaran bahwa kedua kehidupan itu berjalan dengan paralel. Walau dengan setting yang latar belakang yang sama, sejak awal Peter mempermudah penontonnya dengan memberikan sedikit sentuhan pada Helen, ketika rambut kedua Helen masih sama panjang dan coklatnya, kita dibantu dengan bandana yang menutupi cedera karena Helen dirampok, untuk selanjutnya penonton sangat terbantu dengan rambut Helen 2 yang pendek dan blonde.

Banyak penjelasan yang menarik tentang nasib dan takdir ( destiny and fate) yang membuka mata saya lewat film ini. Bahwa hal-hal yang sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta akan tetap terjadi di dalam kehidupan manusia, sesuai dengan yang gariskan-Nya. Dengan cara yang bagaimana ? Manusia punya andil untuk memilih, disadari atau tidak. Terkadang manusia tak berhenti menyesali masa lalu dan berharap untuk kembali dan merubahnya.

Pada akhirnya Helen 2 juga mengetahui Gerry memiliki affair dengan Lidya (dengan cara diberitahukan secara langsung oleh Lidya, ketika dengan secara tidak sengaja Helen mengantar sandwich ke kantor Lidya), pingsan oleh kenyataan pahit dan kondisi fisiknya yang terlalu lelah bekerja, Helen baru kemudian menyadari jika dirinya sedang hamil dan keguguran di Rumah Sakit, melangkah dengan ringan meninggalkan Gerry yang menangis dan meninta maaf di samping tempat tidurnya.

Helen 1 yang sedang jatuh cinta dan hati berbunga-bunga dengan James, tidak memperhatikan jalan ketika akan menyeberang, tertabrak mobil dan masuk Rumah Sakit. Skenario 1 berakhir dengan kematian Helen dan bayinya (yang juga tak disadari kehamilannya dengan James). Tinggal James yang menangisi kematian mereka berdua.

Namun ada begitu banyak kemungkinan yang bisa terjadi di dalam hidup manusia. Adegan dengan cerdas ditutup oleh Peter Howitt, dengan Helen 2 berjalan keluar Rumah Sakit menuju sebuah lift, pintu lift terbuka, Helen bertemu dengan James, bertatapan, kemudian pintu lift tertutup.

Inikah awal dari skenario 3 ? Well, silahkan Anda lanjutkan sendiri.





Friday, January 12, 2007

Monsieur Ibrahim (Resensi Film)

“ Apa yang kau beri, Momo, akan menjadi milikmu selamanya. Apa yang kau terima, akan hilang entah ke mana.”

Penerapan Islam di negara-negara non Islam selalu saja menarik perhatian, dikarenakan keingintahuan akan persepsi yang mungkin saja berbeda. Demikian pula yang terjadi di Perancis sekian tahun silam, rasanya film Monsieur Ibrahim sedikit banyak membukakan mata untuk lebih bisa menerima religiusitas ketimbang agama (berkaitan dengan pelarangan mengenakan jilbab di Perancis).
Persahabatan lintas budaya dan agama antara Monsieur Ibrahim, seorang pemilik toko kelontong di Blue Street, Paris, dengan seorang anak laki berusia 16 tahun, Moses, memiliki makna yang sedemikian dalam akan kehidupan.


Hidup sebagai orang Arab di tengah negara yang senang meng-underestimate-kan Islam, bukanlah perkara yang gampang. Kehadiran mereka bak debu yang tak kasat mata.

Memasuki usia pubertas, Moses yang tinggal di dekat daerah prostitusi terobsesi untuk “mencicipi” kenikmatan dunia dengan salah satu PSK, sebagai penanda kedewasaan seorang laki-laki. Tinggal sendiri dengan ayah yang single parent, membuat Momo merasa kesepian, ditambah dengan kebiasaan Ayahnya membandingkan Momo dengan Paulie, kakak Momo yang tinggal bersama ibunya (yang sebenarnya tak ada dan hanya merupakan perwujudan dari ego orang tua).

Dengan hasil celengan yang dikumpulkan sejak ulang tahunnya yang ke-6, Momo memberanikan diri untuk “membeli” pengalaman seks pertama, sempat sebelumnya menukar uang receh tersebut ke toko kelontong milik Tuan Ibrahim, dan sempat pula mencuri sejumlah makanan untuk makan malam.
Walaupun tahu, Ibrahim sama sekali tidak marah, malah memperbolehkan Momo mencuri sesukanya di toko tersebut, asal jangan di tempat lain. Juga seraya berkata, “ Aku bukan orang Arab, Momo.”

Dengan penasaran Momo bertanya pada ayahnya, apakah manusia bisa memiliki akses untuk membaca apa yang dipikirkan orang lain ? Ketertarikan ini membuat Momo selalu kembali ke toko Ibrahim, dan mencoba mengajak ngobrol tentang apa saja tentang hidup. Dan Ibrahim selalu menjawabnya dengan kata-kata bijak, sambil tak lupa menyebutkan, bahwa semuanya tertera di dalam Al Qur’an-ku.

Masa pubertas Momo pun diisi dengan kisahnya jatuh cinta dengan gadis tetangga, yang kemudian menghianatinya. Petualangan seks-nya dengan hampir semua pelacur di jalan itu, sampir yang memberikan servis gratis karena sudah menganggapnya sebagai adik sendiri. Hubungan yang aneh memang. Justru lebih dekat dibanding dengan keluarganya sendiri.

Persahabatan Momo dan Ibrahim berjalan dengan manis, di saat-saat mereka berjalan-jalan keliling kota, membeli sepatu baru, ketertarikan Momo mempelajari Al Qur’an, memuncak ketika ayah Momo memutuskan untuk meninggalkan Momo dan bunuh diri di rel kereta api setelah dipecat dari kantor.

Setelah melalui proses panjang dan berliku, juga berkali-kali ditolak, akhirnya Ibrahim berhasil mengadopsi Momo sebagai anaknya, membeli mobil mewah dan pulang ke kampung halamannya, Turki. Dalam perjalanan mereka, Momo diperkenalkan dengan beberapa agama dan cara-cara mereka beribadah kepada Tuhan. Menjelaskan keindahan dan kedamaian akan karunia Tuhan, tanpa mempersoalkan agama apa yang mereka peluk. Akhir perjalanan ditutup dengan meninggalnya Ibrahim, dengan perasaan damai telah berpulang, dan menemukan apa yang dia cari selama ini sebenarnya ada di dalam Al Qur’an, meninggalkan Momo dengan perasaan sedih, karena rasa sayangnya kepada Ibrahim, sebagai seseorang yang dianggapnya melebihi keluarganya yang tak pernah benar-benar ada itu.

Siapa tak kenal Omar Sharif, aktor legendaris Hollywood yang berasal dari negeri Mesir, yang mencapai masa jayanya di tahun 1960an. Lewat film Lawrence of Arabia, Doctor Zhivago atau trilogy Passage to India merupakan debut suksesnya di Hollywood. Mendapat anugerah Lifetime Achievement Award pada Venice Film Festival 2003. Setelah sekian lama tak muncul di dunia perfilman, Omar datang dengan Monsieur Ibrahim yang diadaptasi dari novel Eric-Emmanuel Schmitt. Momo yang diperankan Pierre Boulanger, cukup sukses menampilkan seorang anak lelaki Perancis kebanyakan, namun menjadi tidak biasa ketika bertemu dengan Ibrahim.

Dan Monsieur Ibrahim pun kemudian merupakan salah satu film favorit Jiffest 2004.

Belanja Nostalgia di Jalan Surabaya


Text by : Sri Dewi Susanty/JiwaFoto
Photo by : Toto Santiko Budi/JiwaFoto

Penjual barang-barang antik sibuk merapikan dan memoles barang dagangan mereka. Menyusuri Jalan Surabaya, Jakarta, akan membuat kita merasa sejenak "terlempar" ke sebuah dunia masa lalu.


Keberadaan pasar barang antik di Jalan Surabaya ini menurut salah seorang penjual, Jeky (40 thn), sudah ada dimulai sejak 30 sampai 40 tahun lalu. Dia adalah generasi kedua yang telah berjualan selama 20 tahun, setelah sebelumnya, toko dikelola oleh pamannya. Porselen, keramik, patung kayu, wayang, topeng, peralatan makan dari kuningan, cendera mata senjata tradisional antik, pajangan logam, ornamen-ornamen kuno, lampu antik adalah sebagian dari barang-barang yang dijual di sini. Ada pula yang benar-benar unik dan langka seperti alat-alat kapal (kompas, teleskop, setir, dll) atau telepon antik dan kamera kuno.

Sebelum berbentuk toko-toko yang berderet di Jalan Surabaya, para penjual barang antik ini mendagangkan barang-barangnya dengan pikulan, berkeliling Kota lama Jakarta, kemudian beralih menjual di peti-peti dan tenda. Suasana antik dan berkesan "pasar" yang sedikit berantakan sengaja dipertahankan, karena menurut para penjual, kesan berantakan inilah yang menjadi daya tarik pasar ini.

Pelanggan yang belanja du pasar barang antik Jalan Surabaya sampai sekarang masih didominasi oleh wisawatan asing, namun tak jarang pula kolektor dan wisatawan negeri sendiri. "Ada beberapa kategori pembeli; pembeli untuk dijual lagi (biasanya diekspor ke luar negeri), pembeli untuk dipakai, dan pembeli untuk dikoleksi atau kolektor", jelas Jeky, penjual barang antik khusus peralatan kapal.

Khusus pelanggan dari barang-barang kapal tua, memang sangat spesifik, yaitu yang benar-benar mengerti tentang alat-alat kapal. Pembeli dari Indonesia memborong untuk dijual lagi, atau memiliki rekanan orang asing, untuk menjual lagi barang-barang tersebut di luar negeri seperti Perancis dan Belanda.

Keberadaan pasar barang antik di Jalan Surabaya ini sudah go international dan merupakan salah satu pusat wisata belanja Jakarta yang dilestarikan oleh pemerintah DKI Jakarta. Maka tak heran jika Mick Jagger, Sharon Stone bahkan Bill Clinto pernah mampir ke pasar ini ketika berkunjung ke Jakarta, untuk mengoleksi beberapa barang antik. Dinas pariwisata pemeritah DKI Jakarta juga mempromosikan tempat ini sebagai tempat wisata belanja, dalam program "Enjoy Jakarta".

Berbeda dengan penjual barang antik lainnya yang manjual barang antik "sejenis", Abdul Gani, yang sudah berjualan di pasar ini sejak tahun 1973, mengkhususkan diri menjual kamera antik dan buku-buku terbitan lawas. Sebelum menjual kameran antik, Gani menjual radio-radio antik. Namun menjual buku-buku lawas merupakan bisnis utama yang digelutinya, dikarenakan kecintaannya terhadap buku.

"Satu kertas yang lapuk, mungkin bisa menyelamatkan sebuah negeri," demikian nasehatnya. Buku-buku tua yang dijual di toko ini kebanyakan buku-buku sastra Kebudayaan Jawa, Belanda, juga sejarah. Pelanggan Abdul Gani adalah kalangan intelektual mahasiswa dan dosen, yang mempelajari sejarah Jawan dan Indonesia, yang juga kebanyakan dari luar negeri. "Indonesia kaya akan sejarah, namun sedikit sekali dari masyarakat kita yang "tahu" sejarah dan identitas bangsa sendiri," katanya.

Harga barang-barang antik yang dijual di Jalan Surabaya ini bervariasi. Mulai lima ribuan sampai belasan juta rupiah, bergantung dari seberapa langka dan ukuran barang tersebut. Namun Anda masih bisa tawar menawar harga. Jika Anda merindukan nostalgia masa lalu dan dan tertarik untuk mengoleksi benda-benda antik dan bersejarah, sempatkan ke Jalan Surabaya. Berbelanja nostalgia.

*for Contents, a Jakarta lifestyle magazine ...